Pages

Jan 13, 2014

Skipper | Penguins of Madagascar

Serial kartun Penguins of Madagascar merupakan salah satu kartun favorit. Bercerita tentang 4 pinguin lucu dan cerdas yang tiggal di kebun binatang Central Park, New York. Masing-masing bernama Skipper, Rico, Kowalski dan Private. Mereka tinggal bersama Lemur, Berang-berang, Monyet, Gajah dan hewan lainnya. Sepertinya dari anak-anak sampai dewasa menggemari kartun ini.


Sewaktu saya masih menjadi aktivis game online di FB bersama kedua orang teman saya (Reni dan Vidya),  karena satu dan lain hal, kami menggunakan nama-nama samaran. Dan nama-nama pinguin tersebut menjadi inspirasi sebagai nama samaran saat kami dalam setiap 'misi'. Reni sebagai Skipper, Vidya sebagai Kowalski, dan saya sendiri sebagai Rico.    Hehe.. Cukup cerita tentang kami dan kegilaan saat muda ya..

Kembali ke soal pinguin, Reni meminta saya membuatkan boneka mini.  Pinguin. Saya pikir akan mudah membuat pinguin, toh banyak cntekan gratis. Tetapi ternyata pinguin yang diminta bukan pinguin biasa, dia meminta boneka Skipper. Ya, permintaannya benar-benar bukan sembarangan karena Skipper yang sangat jarang sekali (dan hampir tidak ada) pola atau tutorialnya.



Baiklah, karena sebuah permintaan harusnya dikabulkan, saya pun mengambil tantangan ini meski saya harus 'bertapa' berhari-hari.

Seperti biasa, ritual pertama adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari obyek yang akan di buat. Saya mengumpulkan banyak gambar Skipper dalam berbagai pose. Saya juga mencari gambar acuan lain, boneka Skipper. Kebetulan, saya sudah memiliki 2 macam tutorial boneka pinguin (pinguin biasa). Saya mulai melakukan 'persilangan' menggunakan modal tersebut.

  


Bagian Kepala
Kepala bagian atas berbentuk agak sedikit datar. Jadi saya membagi kepala Skipper menjadi 2 bagian utama. Bagian depan (muka) dan bagian tengah kepala (yang membentuk efek flat).

Bagian Badan
Badan Skipper saya bagi menjadi 2 bagian utama. Pertama, bagian depan (perut) saya bagi lagi menjadi 2 bagian untuk membentuk efek gendut. Kedua, bagian samping (badan berwana hitam) kiri dan kanan.

Bagian Sayap, Kaki dan Paruh
Sayap sengaja saya pisah dari pola badan, karena lebih mudah membuatnya. Bagian kaki dan paruh hanya ditempel pada langkah terakhir. Untuk bagian mata, saya memilih menggunakan mata kocak.

Skipper #1, #2, dan #3 berakhir di tempat sampah. Skipper #4 sudah cukup bagus, namun kurang sedikit gendut. Dan Skipper #5 adalah hasil perbaikan dari Skipper #4.
Skipper #5
Skipper percobaan ke 4
Kanan : Skipper #4 - Kiri Skipper #5
Ternyata pola Skipper versi saya banyak sekali potongan-potongannya. Sehingga sulit jika ingin membuatnya dalam ukuran kecil. Dengan ukuran tinggi 10cm saja, saya sedikit kerepotan. Jadi alangkah baiknya diterapkan untuk membuat Skipper versi besar saja.
Nah! Just smile and wave boys, smile and wave.

Feb 1, 2013

How To : Felt Watermelon Slice


Things you'll need:
  • Red Felt
  • White Felt
  • Green Felt
  • Black Felt
  • Scissors
  • Fiberfill
  • Needle and thread

Step by Step

Cut felt as shown above. You can vary the size as you like.
I use 3-cm-diameter  circle from a sheet of red felt and a 4-cm-diameter circle from white felt. Cut a 2 1/2-cm-wide and 5 1/2-cm-long a sheet of green felt for the watermelon rind.


Overlap the red and white felts together. Sew the seeds in place. 


Fold the red-white felt. Hold up the folded side down and flatten the folded side slightly. Place the green strip along the rounded side of the half-circle.
Sew the green felt to the white felt using a whip stitch and green thread. Stuff it with fiberfill, stretching and padding the felt until it resembles a watermelon slice. Sew the rest.

Tada .... It's done..!!

Jan 14, 2013

Ini Cara Saya Mengolah Perca Flanel

Selamat sore teman. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita atau tips mengolah limbah produksi (perca kain flanel) menjadi lebih bermanfaat. Yah, hampir dipastikan setiap selesai produksi (baca: berkreasi), pastilah menghasilkan buangan/sisa kain.


Saya pribadi, tidak sengaja 'mengkoleksi limbah' dari sisa guntingan, buangan akibat salah potong, atau buangan akibat proses trial and error. Limbah kain yang dihasilkan setiap kali saya selesai produksi, saya masukkan ke dalam sebuah kotak (kardus bekas) sampah. Dan tidak terasa, kotak sampah saya sudah penuh dengan limbah. Awalnya saya berpikir untuk membuang saja sisa kain itu daripada menumpuk. Tapi rasanya sayang kalau limbah itu harus dibuang begitu saja. Akhirnya saya  urungkan niat tersebut dan membiarkan kain itu tersimpan dalam kotak. 

Di kala waktu senggang (sedang tidak mengerjakan order) dan mood sedang bagus, saya memilih dan memilah sisa-sisa kain tersebut. Saya bedakan sesuai ukuran (dari yang kecil sekali, kecil sampai ukuran sedang dan dibedakan sesuai warna (warna putih saya pisahkan dari warna lainnya). Setelah tahap memilih dan memilah, inilah yang saya lakukan dengan kain-kain itu

Saya kelompokkan perca flanel sbb : 
• Perca flanel Tipe 1 - Sisa kain dengan ukuran sangat kecil dan  tidak beraturan, saya gunakan sebagai bahan isian. Yah, itung-itung ngirit belanja dakron. Biasanya saya pakai sisa kain ini untuk membuat sesuatu yang tidak menuntut ke-empukan  atau membutuhkan fisik yang kokoh (maaf, bahasanya rada aneh.hehe).

Saya memanfaatkan limbah tipe 1 ini biasanya untuk isian strawberry, blueberry atau cherry. Selain itu saya juga memanfaatkannya untuk isian Thomas (dia butuh body yang kokoh). Tapi perlu diingat, semakin banyak atau  semakin padat isian menggunakan sisa kain, hasilnya akan sangat keras!! Jadi secukupnya saja ya..

• Perca flanel Tipe 2 - Sisa kain dengan ukuran kecil samapi sedang, tidak beraturan bentuknya dan tidak seragam. Tipe ini biasanya saya pilah lagi sesuai bentuknya. Misalnya, untuk yang bentuknya mendekati lingkaran saya gunakan untuk membuat bunga super simpel, yang hanya diputar/gulung langsung jadi. Sisa kain warna hijau (dengan bentuk tidak beraturan juga) saya gunakan untuk membuat semak-semak/rerumputan. Kalau ukurannya masih memungkinkan, saya gunakan untuk membuat daun.  Kain warna krem bisa saya pakai untuk membuat seiris kecil apel, dsb.
Dan kain sisa dari tipe 2 ini dikembalikan lagi ke bak tipe 1.



• Perca flanel Tipe 3 -  adalah sisa kain warna putih. Si putih ini sebaiknya jangan dicampur dengan warna lainnya, mengingat warna-warna lain akan mengotori sehingga kurang bagus kalau mau digunakan. Untuk kain yang berukuran kecil, saya potong-potong lebih kecil untuk membuat efek kelapa tabur atau bulir nasi. Untuk kain yang sedang dan bentuknya jelas (mendekati linkaran/persegi), bisa digunakan untuk membuat bunga atau bagian tengah buah kiwi. Sementara itu, sisa tipe 3 bisa dikembalikan/dicampur dengan tipe 1 untuk diolah lagi.

Sebenarnya masih ada beberapa contoh pemanfaatan perca flanel untuk kreasi lainnya. misalnya, ada yang membuat lukisan dari perca flanel dan saya pun ingin belajar membuatnya nanti..

Mungkin sebagian besar dari teman-teman menganggap cara saya ini ribet atau wasting time ya, silahkan saja berpendapat seperti itu. Tapi bagi saya pribadi yang punya niatan ngirit (hehe) dan punya semboyan "kalau bisa dipakai lagi, kenapa harus dibuang", keribetan semacam itu tidak masalah buat saya. Justru dengan cara ini saya bisa meningkatkan kreatifitas sehingga mampu menghasilkan karya yang bervariasi dan unik. Selain itu,  saya bisa ngirit (BUKAN mengurangi kualitas karya yang dihasilkan) dan ramah terhadap lingkungan karena sedikit sekali atau tidak ada bahan yang terbuang percuma.    

Nah itu dia sebagian tips yang bisa saya bagi berdasarkan pengalaman. Silahkan ambil yang bermanfaat, atau sekiranya ada saran dan kritik, silahkan diutarakan di sini. Sekian, jumpa lagi di tulisan saya berikutnya, insya Allah.