Pages

Feb 1, 2013

How To : Felt Watermelon Slice


Things you'll need:
  • Red Felt
  • White Felt
  • Green Felt
  • Black Felt
  • Scissors
  • Fiberfill
  • Needle and thread

Step by Step

Cut felt as shown above. You can vary the size as you like.
I use 3-cm-diameter  circle from a sheet of red felt and a 4-cm-diameter circle from white felt. Cut a 2 1/2-cm-wide and 5 1/2-cm-long a sheet of green felt for the watermelon rind.


Overlap the red and white felts together. Sew the seeds in place. 


Fold the red-white felt. Hold up the folded side down and flatten the folded side slightly. Place the green strip along the rounded side of the half-circle.
Sew the green felt to the white felt using a whip stitch and green thread. Stuff it with fiberfill, stretching and padding the felt until it resembles a watermelon slice. Sew the rest.

Tada .... It's done..!!

Jan 14, 2013

Ini Cara Saya Mengolah Perca Flanel

Selamat sore teman. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita atau tips mengolah limbah produksi (perca kain flanel) menjadi lebih bermanfaat. Yah, hampir dipastikan setiap selesai produksi (baca: berkreasi), pastilah menghasilkan buangan/sisa kain.


Saya pribadi, tidak sengaja 'mengkoleksi limbah' dari sisa guntingan, buangan akibat salah potong, atau buangan akibat proses trial and error. Limbah kain yang dihasilkan setiap kali saya selesai produksi, saya masukkan ke dalam sebuah kotak (kardus bekas) sampah. Dan tidak terasa, kotak sampah saya sudah penuh dengan limbah. Awalnya saya berpikir untuk membuang saja sisa kain itu daripada menumpuk. Tapi rasanya sayang kalau limbah itu harus dibuang begitu saja. Akhirnya saya  urungkan niat tersebut dan membiarkan kain itu tersimpan dalam kotak. 

Di kala waktu senggang (sedang tidak mengerjakan order) dan mood sedang bagus, saya memilih dan memilah sisa-sisa kain tersebut. Saya bedakan sesuai ukuran (dari yang kecil sekali, kecil sampai ukuran sedang dan dibedakan sesuai warna (warna putih saya pisahkan dari warna lainnya). Setelah tahap memilih dan memilah, inilah yang saya lakukan dengan kain-kain itu

Saya kelompokkan perca flanel sbb : 
• Perca flanel Tipe 1 - Sisa kain dengan ukuran sangat kecil dan  tidak beraturan, saya gunakan sebagai bahan isian. Yah, itung-itung ngirit belanja dakron. Biasanya saya pakai sisa kain ini untuk membuat sesuatu yang tidak menuntut ke-empukan  atau membutuhkan fisik yang kokoh (maaf, bahasanya rada aneh.hehe).

Saya memanfaatkan limbah tipe 1 ini biasanya untuk isian strawberry, blueberry atau cherry. Selain itu saya juga memanfaatkannya untuk isian Thomas (dia butuh body yang kokoh). Tapi perlu diingat, semakin banyak atau  semakin padat isian menggunakan sisa kain, hasilnya akan sangat keras!! Jadi secukupnya saja ya..

• Perca flanel Tipe 2 - Sisa kain dengan ukuran kecil samapi sedang, tidak beraturan bentuknya dan tidak seragam. Tipe ini biasanya saya pilah lagi sesuai bentuknya. Misalnya, untuk yang bentuknya mendekati lingkaran saya gunakan untuk membuat bunga super simpel, yang hanya diputar/gulung langsung jadi. Sisa kain warna hijau (dengan bentuk tidak beraturan juga) saya gunakan untuk membuat semak-semak/rerumputan. Kalau ukurannya masih memungkinkan, saya gunakan untuk membuat daun.  Kain warna krem bisa saya pakai untuk membuat seiris kecil apel, dsb.
Dan kain sisa dari tipe 2 ini dikembalikan lagi ke bak tipe 1.



• Perca flanel Tipe 3 -  adalah sisa kain warna putih. Si putih ini sebaiknya jangan dicampur dengan warna lainnya, mengingat warna-warna lain akan mengotori sehingga kurang bagus kalau mau digunakan. Untuk kain yang berukuran kecil, saya potong-potong lebih kecil untuk membuat efek kelapa tabur atau bulir nasi. Untuk kain yang sedang dan bentuknya jelas (mendekati linkaran/persegi), bisa digunakan untuk membuat bunga atau bagian tengah buah kiwi. Sementara itu, sisa tipe 3 bisa dikembalikan/dicampur dengan tipe 1 untuk diolah lagi.

Sebenarnya masih ada beberapa contoh pemanfaatan perca flanel untuk kreasi lainnya. misalnya, ada yang membuat lukisan dari perca flanel dan saya pun ingin belajar membuatnya nanti..

Mungkin sebagian besar dari teman-teman menganggap cara saya ini ribet atau wasting time ya, silahkan saja berpendapat seperti itu. Tapi bagi saya pribadi yang punya niatan ngirit (hehe) dan punya semboyan "kalau bisa dipakai lagi, kenapa harus dibuang", keribetan semacam itu tidak masalah buat saya. Justru dengan cara ini saya bisa meningkatkan kreatifitas sehingga mampu menghasilkan karya yang bervariasi dan unik. Selain itu,  saya bisa ngirit (BUKAN mengurangi kualitas karya yang dihasilkan) dan ramah terhadap lingkungan karena sedikit sekali atau tidak ada bahan yang terbuang percuma.    

Nah itu dia sebagian tips yang bisa saya bagi berdasarkan pengalaman. Silahkan ambil yang bermanfaat, atau sekiranya ada saran dan kritik, silahkan diutarakan di sini. Sekian, jumpa lagi di tulisan saya berikutnya, insya Allah.

Nov 10, 2012

Antara Box, Vespa dan Boneka

Pagi itu, seperti biasanya sebelum melakukan rutinitas jahit-menjahit, saya buka Facebook. Biasa lah, cek sana-sini, balas komen, balas inbox dari penggemar atau calon costumer dan hal lainnya seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Akhirnya sampailah ke sebuah pesan dari seorang teman lama. Kurang lebih seperti ini isinya
"Mbak, bisa buatin box hias? Aku mau di atas box ada Vespa oranye dan sepasang pengantin.. Bisa ya..?"
Selesai membaca, aku terdiam sejenak. Mencoba membayangkan permintaan teman ku itu. Lalu dengan ragu-ragu aku menyentuh keyboard itu.
"Buat dipakai kapan?? Saya coba dulu ya.."
Beberapa menit kemudian, teman ku membalas
" Masih lama kok mbak, buat dipakai tanggal 1 Juli "

Aku lirik itu kalender di sebelah monitor.
Hah! Sekarang hari Rabu tanggal 20 Juni. Dan tanggal 1 Juli itu hari Minggu.
Saya komat-kamit sejenak di depan monitor. Itu artinya saya harus menyelesaikan box itu maximal 1 minggu dan harus segera mengirimnya mengingat waktunya sangat mepet. Belum lagi kalau expedisi/pak posnya terlambat, kacau jadinya.
Akhirnya dengan berat jari-jari ini mengetik balasan meskipun sebenarnya kurang yakin.
" Oke La, saya usahakan ya.. Ini serba perdana, maaf ya kalau nanti hasilnya kurang memuaskan...
'' Ah, buatan mbak pasti bagus.. oke aku tunggu ya mbak...''
Saya menghela nafas agak panjang dan mulai berpikir apa yang harus saya lakukan dengan boneka?? Lalu Vespa ??? Pusing??? IYA.. Tapi sudah terlanjur janji, harus ditepati lah yaa...

Pertama, tentukan tema.
Mulai memikirkan tema apa yang cocok untuk box, Vespa dan sepasang pengantin. Aha!! Taman, menurut saya tema yang paling mudah di buat. Selanjutnya adalah membuat box-nya. karena ini bagian yang paling mudah. Hehe.. Saya membuat box dari karton teabl 2mm dengan ukuran box 15x15x7 cm. Kenapa? Disesuaikan dengan request, box tidak terlalu besar tapi bisa dipakai untuk wadah dan yang paing penting tidak ribet saat di bawa ke acara kawinan. Itu pesan teman saya.. Box hanya saya hias menggunakan flanel warna hijau (seolah padang rumput) dan dikelilingi dangan pagar kayu. Dan di beberapa sisi padang rumput itu ada tanaman bunga warna-warni. Selesai! Super simpel!

Selanjutnya, Vespa orens.....
Vespa?? Iya, saya tahu Vespa seperti apa bentuknya. Kebetulan di rumah ada sebuah Vespa dan tetangga saya juga ada yang punya Vespa. Tpi kalau Vespa 3D dari flanel?? Sama sekali belum pernah melihat, apalagi membuat! Pusing lagi.. Browsing di internet mencari contekan pola 3D, susahnyaaa. Versi 2D alias flat alias hanya dari salah satu sisi saja sih banyak ya... Lalu...? Ya sudah, nekad daripada kelamaan cari tutorial, akhirnya mencoba buat sendiri Vespa versi saya. Modal saya cuma gambar Vespa versi asli dan gambar lain yang saya temukan di internet.


dan seperti inilah bentuk Vespa perdana saya tanpa contekan pola. Dn tidak langsung berhasil dalam sekali percobaan. Saya mencoba 3x sampai akhirnya ketemu hasil seperti di bawah ini. ** terpaksa bersandar di box UHU karena tidak saya beri penyangga **

Selanjutnya, BONEKA....
Sejujurnya, boneka itu gampang-gampang susah bai saya. Gampang, karena ada banyak pola tersebar gratis di internet. Susahnya, ini baru pertama kali dan waktunya mepet!! Tak mau buang waktu, langsung saja diproses boneka pengantinnya dengan modal pola yang ada di internet. Gunting, jahit selesai boneka ukuran 10cm. Eh, belum selesai kaena harus buat baju. dan ternyata membuat expresi wajah bukan keahlian saya. Jdinya, expresi si pengantin standar saja. Saya pikir sudah selesai sampai di sini.Ternyata saya lupa, kalau si pengantin itu bakalan naik Vespa! Berpikir lagi bagaimana caranya bagian kaki mereka gak kaku dan bisa terlihat bagus saat digabungkan dengan bagian lainnya. yah, terpaksa buat boneka barulagi dengan kaki yang bisa sedikit ditekuk. 

Hasilnya.. saya bilang jujur, kurang bagus, biasa saja dan kurang maksimal... (foto burem pula! >_< )
Selanjutnya... 
Setelah seluruh bagian selesai saya kerjakan, saatnya menggabung menjadi satu bagian utuh sesuai tema. Vespa saya posisikan tepat di tengah-tengah box yang sudah saya lapis dengan kain flanel abu-abu. (Ceritanya si Vepsa nongkrong di jalan taman. hehe). Saya pastikan si Vespa orens itu terpasang dengan sempurna, tidak goyang sehingga tidak mudah lepas atu rusak saat di perjalalanan. Saya tes dengan guncangan ke kiri ke kanan serta jungkir balik. Aman... Berlanjut ke boneka pengantin. Saya pasang persis sesuai request, berboncengan di atas Vespa. Oh ya, sebelumnya teman saya meminta supaya si mempelai lelaki memakai helm, tapi karena teman cukup mengerti betapa repotnya saya, akhirnya dibatalkan (fiuhh ). Sekali lagi saya lakukan tes gempa, goncangan kiri kanan jungkir balik. Aman..!!
Seanjutnya... Urusan packing sebelum dikirim ke alamat tujuan. 
Sempat bingung, meskipun sudah lolos uji gempa, saya masih (sangat) kuatir kalau si kurir dengan seenak hatinya melempar paket saya, Lalu saya  putuskan untuk melindungi bagian Vespa dan si pengantin seperti ini (terinspirasi dari cara pengemasan lampu).

Setelah saya bungkus dengan bentuk seperti di atas, baru saya masukkan ke dalam kardus lain. Sekali lagi dilakukan tes 'gempa' dan saya nyatakan aman dan semoga tetap aman selama di perjalanan, selamaysampai tujuan.

Hri berikutnya saya kirimkan paket itu dengan jasa pak pos. Karena hari itu sudah hari Kamis dan paket harus sudah diterima maksimal hari Sabtu, saya putuskan memakai jasa express. Saya serahkan paket itu ke petugas (dengn rasa harap-harap cemas) dan Bismillah...  Syukur alhamdulillah, Jumat sore, teman sayasudah konfirmasi bahwa paket sudah di terima dengan selamat sampai tujuan. Teman saya sangat menyukainya (terutama anak lelakinya, katanya ingin dibuat mainan.. hadooh...). Alaamdulillah.. alhamdulillah,,, 

NOTE : Segala sesuatu yang baru pertama dilakukan itu memang susah. Awalnya dari 'bisa' itu karena 'terpaksa' lalu menjadi 'terbiasa'. Merasa tidak mampu melakukan sesuatu hal yang baru itu lumrah, tapi jangalah jadi kebiasaan. Yakinlah pasti kamu bisa, meskipun hasil yang akan kamu peroleh belum atau tidak sesuai dengan harapan awal. Ambil sisi positifnya, kamu dapat pengalaman baru, pelajaran baru yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan atau erubahan di masa datang.

Salam kreatif,